بسم الله الرحمن الرحيم
Asal mula
penamaan qasidah atau syi'ir yang berisi pujian-pujian kepada Nabi saw. dengan nama Qashidah Burdah adalah
peristiwa yang dialami oleh sahabat Ka'ab bin Zuhair ra.
Ka’ab bin Zuhair ra. yang pada awal kemunculan Islam gemar
menghina Nabi Muhammad saw. dengan syi’ir-syi’irnya yang berisi ejekan terhadap
Nabi saw. Dan sebab syi’ir yang dia buat, dia dicari-cari para sahabat yang
lebih dahulu masuk islam untuk dibunuh. Pada akhirnya dia memberanikan diri
untuk menghadap Nabi saw. dengan menutup mukanya, seraya bertanya apakah jika Ka’ab bin Zuhair menghadap Nabi saw. akan dimaafkan dan diterima masuk Islam. Nabi saw.
pun mengiyakan dan seketika Ka’ab bin Zuhair ra. membuka penutup mukanya dan
memberitahu bahwa ialah Ka’ab bin Zuhair.
Setelah dia memeluk agama Islam, Ka’ab bin Zuhair ra. membuat
syi’ir yang berisi pujian-pujian kepada Nabi saw, yang kemudian syi'ir yang
berisi pujian kepada Nabi saw. itu diperdengarkan di depan Nabi saw., setelah mendengarkan syi'ir
tersebut Nabi menyukainya sehingga memberikan hadiah kepada Ka'ab bin Zuhair
sebuah selimut lurik-lurik/garis-garis yang dalam bahasa Arab disebut dengan
Burdah (البردة). Selimut tersebut masih disimpan hingga
saat ini di musium Topkapi yang berada di Istanbul, Turki.
Maka dari itu
selanjutnya setiap syi'ir/qasidah yang berisi pujian terhadap Nabi saw. biasa dinamakan dengan Qashidah Burdah.
Banyak ulama
yang mengarang Qashidah Burdah dan satu diantaranya yang memiliki Maziyyah (Khasiat) ialah Burdah yang dikarang oleh Abu Abdillah Muhammad
Al-Bushiri (696 H) yang berasal dari Alexandria,
Mesir. Yang mana Burdah karangan Imam Al-Bushiri ini juga telah banyak disyarahi oleh ulama dari berbagai penjuru dunia, salah satu dari sekian banyak syarah burdah ini, ialah yang dikarang oleh Syeikhul Azhar Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad AlBajuri (1276 H)
Asal mula
beliau membuat Qashidah Burdahnya, ialah ketika
beliau jatuh sakit terkena serangan stroke, hingga
lumpuh, kemudian dalam mimpinya beliau bertemu dengan Nabi saw. dan beliau
matur untuk membuatkan Nabi saw. sebuah Qashidah, yang pada akhirnya dengan
Qashidah tersebut menjadi wasilah kesembuhannya,
ketika pada mimpi selanjutnya dia bertemu Nabi Muhammad
saw. dan langsung memperdengarkan Qashidah
tersebut didepan Nabi saw.
Nabi saw. pun merasa senang dengan Qashidahnya dan mengelus badan Muhammad
Al-Bushiri dalam mimpinya, seketika dia sembuh dari strokenya saat dia bangun dari
tidur.
Yang pada akhirnya banyak orang yang meminta kepada
Imam Al-Bushiri untuk diijazahkan qashidah burdah tersebut.
Maka dengan membaca Qasidah Burdah Imam Al-Bushiri ini bisa menjadikan wasilah
untuk kesembuhan penyakit bagi pembacannya, bukan karena lafadz-lafadz yang ada
di dalamnya, melainkan dengan keberkahan dari Nabi Muhammad saw.
Dari kisah Ka’ab bin Zuhair ra. dan Imam Al-Bushiri
diatas, kita dapat memetik suatu pelajaran atau hukum, bahwa memuji Nabi
Muhammad saw. bukanlah hal yang dilarang bahkan dikategorikan sebagai suatu kesunnahan.
Nabi saw. memang tidak pernah meminta untuk dipuji akan tetapi beliau juga
tidak melarang ketika ada orang yang memujinya bahkan sebaliknya, beliau
memberikan apresiasi terhadap orang yang memujinya seperti apa yang dialami oleh
Ka’ab bin Zubair dengan hadiah selimut burdah dan Imam Al-Bushiri dengan
kesembuhan atas keberkahan darinya saw.
Diantara potongan awal bait Qoshidah Burdah Imam Al-Buhsiri:
فكيف تنكر حباً بعد ما شـــــــــــــهدت
به عليــــك عدول الدمع والســـــــــقمِ
Bagaimana
mungkin engkau bisa mengelak dari rasa cinta,
setelah air
mata kejujuran dan rasa sakit telah bersaksi atasnya...?
يا
لائِمي في الهوى العُــذْرِيِّ مَعـذرَةً
مِنِّي
إليـك ولَو أنْصَــفْـتَ لَم تَلُــــــمِ
Wahai orang
yang mencelaku karena rasa cintaku,
seandainya saja
kau tau dan sadar maka pasti kau akan memaklumiku.
*disadur dari pengajian ramdhan syarah kitab qashidah burdah bersama Abuya Said Aqil Siraj
Tanger
6 Mei 2019, 30 Sya'ban 1440.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar