Minggu, 05 Mei 2019

Asal Mula Penamaan Qashidah Burdah


بسم الله الرحمن الرحيم

Asal mula penamaan qasidah atau syi'ir yang berisi pujian-pujian kepada Nabi saw. dengan nama Qashidah Burdah adalah peristiwa yang dialami oleh sahabat Ka'ab bin Zuhair ra. 
Ka’ab bin Zuhair ra. yang pada awal kemunculan Islam gemar menghina Nabi Muhammad saw. dengan syi’ir-syi’irnya yang berisi ejekan terhadap Nabi saw. Dan sebab syi’ir yang dia buat, dia dicari-cari para sahabat yang lebih dahulu masuk islam untuk dibunuh. Pada akhirnya dia memberanikan diri untuk menghadap Nabi saw. dengan menutup mukanya, seraya bertanya apakah jika Ka’ab bin Zuhair menghadap Nabi saw. akan dimaafkan dan diterima masuk Islam. Nabi saw. pun mengiyakan dan seketika Ka’ab bin Zuhair ra. membuka penutup mukanya dan memberitahu bahwa ialah Ka’ab bin Zuhair.
Setelah dia memeluk agama Islam, Ka’ab bin Zuhair ra. membuat syi’ir yang berisi pujian-pujian kepada Nabi saw, yang kemudian syi'ir yang berisi pujian kepada Nabi saw. itu diperdengarkan di depan Nabi saw., setelah mendengarkan syi'ir tersebut Nabi menyukainya sehingga memberikan hadiah kepada Ka'ab bin Zuhair sebuah selimut lurik-lurik/garis-garis yang dalam bahasa Arab disebut dengan Burdah (البردة). Selimut tersebut masih disimpan hingga saat ini di musium Topkapi yang berada di Istanbul, Turki.
Maka dari itu selanjutnya setiap syi'ir/qasidah yang berisi pujian terhadap Nabi saw. biasa dinamakan dengan Qashidah Burdah.
Banyak ulama yang mengarang Qashidah Burdah dan satu diantaranya yang memiliki Maziyyah (Khasiat) ialah Burdah yang dikarang oleh Abu Abdillah Muhammad Al-Bushiri (696 H) yang berasal dari Alexandria, Mesir. Yang mana Burdah karangan Imam Al-Bushiri ini juga telah banyak disyarahi oleh ulama dari berbagai penjuru dunia, salah satu dari sekian banyak syarah burdah ini, ialah yang dikarang oleh Syeikhul Azhar Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad AlBajuri (1276 H)
Asal mula beliau membuat Qashidah Burdahnya, ialah ketika beliau jatuh sakit terkena serangan stroke, hingga lumpuh, kemudian dalam mimpinya beliau bertemu dengan Nabi saw. dan beliau matur untuk membuatkan Nabi saw. sebuah Qashidah, yang pada akhirnya dengan Qashidah tersebut menjadi wasilah kesembuhannya, ketika pada mimpi selanjutnya dia bertemu Nabi Muhammad saw. dan langsung memperdengarkan Qashidah tersebut didepan Nabi saw.            
Nabi saw. pun merasa senang dengan Qashidahnya dan mengelus badan Muhammad Al-Bushiri dalam mimpinya, seketika dia sembuh dari strokenya saat dia bangun dari tidur.
Yang pada akhirnya banyak orang yang meminta kepada Imam Al-Bushiri untuk diijazahkan qashidah burdah tersebut.
Maka dengan membaca Qasidah Burdah Imam Al-Bushiri ini bisa menjadikan wasilah untuk kesembuhan penyakit bagi pembacannya, bukan karena lafadz-lafadz yang ada di dalamnya, melainkan dengan keberkahan dari Nabi Muhammad saw.
Dari kisah Ka’ab bin Zuhair ra. dan Imam Al-Bushiri diatas, kita dapat memetik suatu pelajaran atau hukum, bahwa memuji Nabi Muhammad saw. bukanlah hal yang dilarang bahkan dikategorikan sebagai suatu kesunnahan. Nabi saw. memang tidak pernah meminta untuk dipuji akan tetapi beliau juga tidak melarang ketika ada orang yang memujinya bahkan sebaliknya, beliau memberikan apresiasi terhadap orang yang memujinya seperti apa yang dialami oleh Ka’ab bin Zubair dengan hadiah selimut burdah dan Imam Al-Bushiri dengan kesembuhan atas keberkahan darinya saw.

Diantara potongan awal bait Qoshidah Burdah Imam Al-Buhsiri:
فكيف تنكر حباً بعد ما شـــــــــــــهدت
به عليــــك عدول الدمع والســـــــــقمِ
Bagaimana mungkin engkau bisa mengelak dari rasa cinta,
setelah air mata kejujuran dan rasa sakit telah bersaksi atasnya...?

يا لائِمي في الهوى العُــذْرِيِّ مَعـذرَةً
مِنِّي إليـك ولَو أنْصَــفْـتَ لَم تَلُــــــمِ
Wahai orang yang mencelaku karena rasa cintaku,
seandainya saja kau tau dan sadar maka pasti kau akan memaklumiku.


*disadur dari pengajian ramdhan syarah kitab qashidah burdah bersama Abuya Said Aqil Siraj


Tanger 6 Mei 2019, 30 Sya'ban 1440.